Home / Berita Umum / Rawan Suap Di Bilik Lapas

Rawan Suap Di Bilik Lapas

Rawan Suap Di Bilik LapasĀ  – ‘In this country, you gotta make the money first. Then when you get the money, you get the power. Then when you get the power, then you get the women’

Cuplikan itu disampaikan aktor kawakan Alfredo James Pacino alias Al Pacino saat memainkan Tony Montana di film usang Scarface yang launching tahun 1983. Jika ditranslate dengan bebas dalam Bahasa Indonesia, cuplikan itu kira-kira semacam ini:

‘Di negara ini, Anda mesti membuahkan uang dahulu. Lantas saat Anda memperoleh uang, akan tiba kemampuan. Lalu saat Anda mendapatkan kemampuan, jadi Anda memperoleh wanita’

Tidak jelas benar apa Fahmi Darmawansyah sempat melihat film itu ataukah tidak. Akan tetapi sekurang-kurangnya terpidana masalah suap berkaitan project di Bakamla itu mempunyai uang supaya bekas Kalapas Sukamiskin Wahid Husen biarkan membuat bilik cinta atau bilik asmara di lapas itu.

Tentang bilik cinta itu tercatat dalam surat tuduhan buat Wahid yang dibacakan jaksa KPK di Pengadilan Tipikor Bandung pada Rabu, 5 Desember 2018. Fahmi dimaksud bangun ruang memiliki ukuran 2 mtr. x 3 mtr. yang diperlengkapi tempat tidur di lapas itu.

“Untuk kepentingan lakukan jalinan tubuh suami-istri, baik itu dipakai Fahmi Darmawansyah waktu didatangi istrinya ataupun disewakan Fahmi Darmawansyah pada masyarakat binaan lainnya dengan tarif sebesar Rp 650 ribu,” demikian bunyi salah satunya point dalam surat tuduhan itu.

Wahid yang duduk di kursi terdakwa saat itu mengakui khilaf. Sedang pengacaranya, Firma Uli Silalahi, setelah persidangan menjelaskan akan menanti proses pembuktian dalam persidangan setelah itu.

“Kita uji kebenaran hukum bukti di persidangan saksi serta alat bukti tuduhan seperti formasi dari berkas kontrol penyidik,” kata Firma.

Dalam masalah itu, Fahmi yang suami dari Inneke Koesherawati itu juga telah dijaring KPK menjadi terduga, walau sebenarnya ia sekarang ini tengah melakukan hukuman sebab masalah suap. Praktis, Fahmi akan kembali punyai urusan dengan hukum yang jika dapat dibuktikan akan meningkatkan waktu hukumannya.

Bilik cinta bukan perihal yang baru dalam kacau balau persoalan lapas. Terdaftar istri Ahmad Fathanah, Sefti Sanustika, sempat meminta supaya KPK menyiapkan bilik cinta untuk melepas perasaan kangen pada suaminya pada tahun 2016.

Bahkan juga Menteri Hukum serta HAM Yasonna Laoly mengakui sempat tebersit ide mengenai bilik cinta itu seperti diaplikasikan ikut di beberapa negara lainnya. Akan tetapi Yasonna mengerti wawasan masalah itu susah direalisasikan di Indonesia dimana permasalahan keunggulan kemampuan di lapas lebih penting.

“Saya sempat melempar inspirasi itu, tetapi belumlah waktunya diaplikasikan di sini. Di sini, bicara supaya tidak over-kapasitas saja kita masih tetap pusing. Jadi belumlah dapat sekarang ini,” tutur Yasonna pada Minggu, 10 Juli 2016.

Dua tahun berlalu semenjak perkataan Yasonna itu, wawasan mengenai bilik asmara tidak bergerak ke manakah juga. Kepala Sisi Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kabag Humas Ditjen Cocok) Ade Kusmanto menyebutkan seseorang terpidana yang dipidana memang akan kehilangan beberapa kemerdekaannya, termasuk juga masalah ranjang itu.

“Wawasan telah, tetapi untuk perbincangan yang lebih serius, belumlah,” kata Ade, Jumat (7/12/2018).

Seirama, Guru Besar Hukum Pidana Kampus Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Hibnu Nugroho menyebutkan arah dari pemidanaan pada seorang yang lakukan tindakan pidana ialah satu pengekangan sesaat. Jika masalah bilik cinta itu direalisasikan, jadi menurut Hibnu, tidak ada perbedaannya dengan orang yang tidak dipidana.

“Kita kembali ke esensi satu pidana, pidana jika kita memandangnya kan menjadi satu pembalasan, pengekangan, akibatnya karena satu tindak pidana yang dikerjakan, jika kita berkelanjutan semacam itu sama dengan arah pemidanaan, yang untuk bikin kapok, untuk bikin pelajari, saya duga tidak butuh itu (bilik cinta di lapas), tidak butuh, tidak butuh, wong sesuai dengan orang dipidana kok,” kata Hibnu.

Hibnu lalu menyoroti pengawasan berkaitan lapas yang perlu lebih ketat. Ia menanyakan bagaimana dapat seseorang terpidana bebas memperoleh kelebihan seperti Fahmi itu.

“Memang di sini dibutuhkan terdapatnya satu pengawasan yang berkelanjutan ya, pengawasan memberi sela ataukah tidak, jika sampai kini pengawasan memberi ‘celah’ untuk memperoleh keuntungan ya sama pula, kan begitu. Terkadang kan sela itu yang bisa saja untuk digunakan atau menyengaja dicelahkan kan begitu juga bisa,” tambah Hibnu.

Selain itu, KPK memandang sarana yang bisa saja itu, baik yang sesuai dengan ketentuan ataupun tidak, riskan akan terjadinya suap saat ada kongkalikong pada beberapa pihak yang memiliki kepentingan. KPK juga mencontohkannya pada apakah yang telah tertuang dalam tuduhan Wahid itu.

“Pendirian fasilitas-fasilitas yang dibuat narapidana di Lapas Sukamiskin tentunya riskan dengan penyimpangan. Dalam tuduhan pada (bekas) Kalapas Sukamiskin, KPK sudah menguraikan jika pembangunan itu rawan disalahgunakan,” kata Febri

About admin